PSYCHOID FLUSH: March 2014

Langkah Pertama Bisnis Sablon


Usaha di bidang sablon ini baru saya mulai pd beberapa hari sebelum puasa 1432 H. Ada tawaran tender-tenderan di acara reuni sebuah SMAN di Bandung. Harga kami yg terbaik, harusnya menang, tp ketua panitianya manuver memenangkan prsh lain yg sebenarnya ga ikut tender.

Untungnya saya punya prinsip "tidak ada gagal, justru itu BERHASIL menemukan cara yg salah untuk sukses." Kemenangan tertunda itu tetap menjadi modal kepercayaan diri. Kekalahan itu kemudian dikomunikasikan ke segenap khalayak, sudah tentu menonjolkan aspek kemenangannya. Ternyata menjadi promosi yang efektif. Seseorang yg mendengar kabar itu salut dan bersimpati pada saya. Dia pun membocorkan bahwa ada tender serius di prsh suaminya. Maka saya pun ikut tender lagi. Belajar dari pengalaman bulan sebelumnya, saya pun menang lagi, tp kali ini tidak menang telak, dalam arti tidak menang secara harga (harga sama dg 7 prsh yg lain) tp menang secara KIE (komunikasi-informasi-edukasi). Saya terus mendampingi pejabat pemberi order mengedukasinya dg "perkembangan mutakhir" desain dan teknik sablon. (Pdhal saya sesungguhnya tidak tahu banyak soal teknis, hanya dari sisi konsumen saja). Saya menempatkan diri menjadi konsultan produksi pemberi order. Berhasil, saya pun mendapatkan order 15.000 potong kaos peserta funbike di Bali.

"Modal" yg terpenting yg saya miliki adalah kepercayaan (orang). Sebab kami sebenarnya belum memiliki badan hukum, belum berpengalaman, tidak mempunyai pegawe tetap, dan tidak punya kapital (modal uang). Modal kepercayaan itu penting, jika tidak mana mungkin pemberi order memberikan DP (uang muka) sebesar puluhan juta rupiah, pdhal bisa saja kita tidak mengerjakan proyek itu. Kabur. Acara hancur, muka mau disimpan di mana? Hal ini pastilah dikhawatirkan semua pemberi order yg diharuskan membayar DP. Manajemen risiko ini saya pikir akan menjadi nilai penentu apakah orang akan memberikan order pada kita atau tidak. Soal kepercayaan orang ini akan menjadi fundamen perusahaan saya, maksudnya saya akan investasi besar untuk mendapatkan dan mempertahankan kepercayaan. Investasi itu meliputi pemilikan badan hukum, bangunan, kendaraan operasional, citra diri, dll.

Ajaibnya, sambil mengerjakan proyek ini, saya justru sesungguhnya baru mulai belajar soal sablon dan printing. Banyak orang yg saya temui untuk membagi proyek ini, krn saya tidak mungkin selesai dalam batas waktu 2 minggu jika mengerjakan sendiri. Maka saya pun belajar yg istilah manajemennya cluster industri: pabrik kain (grey dan celup, printing, dll), pengusaha jait (konveksi dan garmen), pengusaha sablon spesialis, tukang setting dan desain, layanan printing komputer terutama untuk kebutuhan pembuatan sampel. Belajar di sini bukan berarti menjadi paham semua urusan produksi, justru baru saja mendapatkan banyak peer (pekerjaan rumah, tugas2 belajar lanjutan).

Ternyata berkecimpung di dunia produksi berbasis sablon adalah persoalan menangani benang (atau bahan lainnya), kain, warna, kimia, dan manusia (berbagai level organisasi). Kita perlu menekuninya dengan hati.

Proyek pertama ini tergolong produksi kaos dangan bahan kain dan sablon sederhana, ala kadarnya. Mungkin memang harus begitu. Kita belajar mengerjakan "soal2" yg sederhana dulu, baru kemudian makin kompleks. Meskipun sederhana, manajemen produksi harus diterapkan: Planning, Organizing, Actuating, Controling. Manajemen mutu juga jgn dilupakan; hasil produksi dari teman2 yg lain hrs ditentukan standardnya (termasuk merek obat dan jenisnya) dan hrs diuji. Saya mulai menyiapkan SOP (standar operasional prosedur).

Sekarang pekerjaan masih on progress, sdg jalan. Mohon doanya semoga lancar.

Salam,
Dainsyah

#sharepengalaman #motivasidiri

0 comments:

Post a Comment